Pray Nadeak's Blog

(Indahnya Berbagi)

Principle of Parsimony : Kesederhaan Tetap yang Terbaik

Ada yang pernah mendengar istilah Principle of Parsimony? Principle of Parsimony itu merupakan salah satu prinsip yang dipegang dalam membuat model-model statistik. Model statistik adalah persamaan yang dibentuk dari sejumlah data sampel untuk menggambarkan hubungan antara variabel-variabel yang dipengaruhi dengan variabel-variabel-variabel yang mempengaruhinya. Principle of Parsimony sendiri merupakan suatu prinsip yang menyatakan bahwa semakin sederhana sebuah model statistik dengan jumlah variabel dependen (yang dipengaruhi) cukup informatif untuk menjelaskan model, semakin baik pula model statistik tersebut.

Istilah Principle of Parsimony ini pertama kali diperkenalkan oleh dosen Analisis Ketahanan Hidup (Survival Analysis) saya, Pak Mohammad Dokhi. Bapak ini berulang kali menyebut istilah itu di kelas. Itulah yang membuat istilah tersebut saya masih ingat sampai sekarang.

Selain Pak Dokhi, ada pula dosen yang menyinggung-nyinggung Principle of Parsimony ini di kelas. Dosen tersebut adalah Pak MA. Yulianto, dosen Riset Operasi (Operation Research). Beliau dalam kuliah pernah menyebutkan bahwa BPS (Badan Pusat Statistik) seringkali merilis hasil-hasil peramalan statistik berdasarkan model-model statistik yang sederhana. Contohnya saja peramalan produksi padi yang selalu menggunakan regresi linier sederhana dengan variabel dependen hasil produksi dan variabel independen luas tanam. Peramalan tersebut lebih efektif karena selain mudah dalam interpretasi hasil, sehingga mudah pula melihat hubungan yang logis antara luas tanam dan hasil produksi.

Namun, pada tanggal 15 Februari 2013, saya diingatkan kembali oleh partner lomba DAC (Data Analysis Competition) saya, Listra Tandi Roma, akan Principle of Parsimony ini. Ketika saya dan Listra mencoba menganalisis data dari soal babak penyisihan online yang diberikan, ternyata dari output SPSS terindikasi bahwa terjadi multikolinearitas dalam model. Saya pun mencoba memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasi multikolinearitas ini. Ketika itu saya menjadi teringat akan Confirmatory Factor Analysis –salah saatu teknik analisis multivariat yang kami pelajari di kampus- yang dapat meringkas variabel-variabel yang berkorelasi tinggi (multikolinearitas) menjadi satu faktor sehingga dapat mengatasi masalah multikolinearitas tersebut. Namun demikian, partner saya kurang setuju dengan usulan tersebut karena model yang terbentuk tadi akann menjadi lebih ribet, muter-muter dan susah diinterpretasikan. Dia lebih setuju kalau saya menggunakan Stepwise Regresion untuk menghilangkan variabel-variabel bebas yang menyebabkan multikolinearitas sehingga model jadi lebih baik dan lebih sederhana.

Saya pun tetap keukeuh dengan pendirian saya. Namun ketika membaca soal-soal nomor akhir, pendirian saya pun langsung berubah. Saya pun langsung setuju dengan pendapat partner saya, karena lebih cocok dengan permintaan soalnya. Soalnya meminta agar para peserta dapat menunjukkan model terbaik dengan variabel-variabel independen mana yang berpengaruh kuat serta memberi kesimpulan umum dan saran dari sluruh hasil analisis. Saya baru sadar kalo Stepwise Regression lebih cocok karena lebih mudah dalam interpretasinya lebih mudah -jumlah variabelnya sedikit dan hubungannya linier- sehingga lesimpulan umum dan saran pun lebih mudah didapat.

Tak disangka ternyata Principle pf Parsimony kembali hadir menyapaku di masa-masa penulisan skripsiku. Dalam  metoologi skripsiku, aku menggunakan prinsip Principle of Parsimony untuk menentukan model terbaik untuk menjelaskan ketahanan sekolah siswa usia 7-15 tahun di Jawa Barat tahun 2011. Principle of Parsimony ini tertuang dalam suatu kriteria yang dinamakan AIC (Akaike Information Criterion) yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

AIC = -2 Loglikelihood + 2p

dimana -2 Loglikelihood merupakan representasi kecocokan model (goodness of fit) dan 2p merupakan representasi kerumitan model. Makin kecil nilai -2 Loglikelihood makin besar peluang model untuk cocok (fit) dan makin kecil nilai 2p makin sederhana pula model tersebut. Jika dikaitkan dengan principle of parsimony, maka model dengan AIC terkecil merupakan model yang terbaik untuk menjelaskan peristiwa tersebut.

Jadi, Principle of Parsimony mengajarkan “simplicity is always be the best helper to help you solving your problems

Leave a comment »

Cinta Kasih dalam Keluarga Menembus Batas Generasi

       Pembaca sekalian, kali ini saya ingin berbagi tentang sebuah video nan penuh makna. Video ini merupakan iklan layanan masyarakat Singapura. Saya sendiri tahu video ini ketika ibadah Minggu di GKI Cawang, dimana ketika sang pendeta menutup khotbahnya beliau memberikan ilustrasi singkat dengan dengan memutar video ini di akhir khotbahnya.

       Video ini ber-subtitle bahasa Inggris. Akan tetapi, saya akan tetap menjelaskan isi cerita dari video ini agar pembaca semua dapat mengerti maksud dari video ini dan mempraktikkan nasihat yang ada di dalamnya dalam kehidupan berkeluarga.

       Awal cerita video ini dimulai dari ketika sang nenek berada di rumah sakit. Di rumah sakit itu dia dijaga oleh anak laki-lakinya, istri anak laki-lakinya, dan cucunya. Dengan sabar si anak laki-laki ini merawat ibunya (nenek tadi) dan ini membuat anaknya sendiri (cucu nenek tadi) merasa heran dengan kesabaran ayahnya dalam menjaga neneknya.

       Kemudian, alur cerita pun mundur ke kondisi satu tahun yang lalu (flashback). Saat itu, sang nenek baru pindah ke rumah anaknya setelah suaminya lebih dahulu pergi meninggalkan dunia. Dalam keseharian, sang nenek terlihat tak betah tinggal di rumah anaknya. Ketika sang nenek makan di rumah itu, dia mengeluhkan daging yang dimasak terlalu alot (keras) sehingga dia mengira bahwa dengan memberi daging itu kepadanya berarti mereka ingin membuatnya tersedak, lalu mati. Sang anak laki-laki pun tetap sabar dengan tingkah ibunya (sang nenek). Dia menyuapi ibunya sayur -yang lebih lembut teksturnya daripada daging- namun ibunya tetap menolaknya. Istri si anak laki-laki ini dan anak mereka meninggalkan ruang makan itu meninggalkan ruang makan itu dengan hati yang cukup kesal melihat tingkah sang nenek.

       Berikutnya, dalam puncak ketidakbetahannya sang nenek di rumah itu, dia ngambek dan ingin pindah ke rumah saudara perempuannya di Red Hills. Tentu saja keputusan ini membuat anak laki-lakinya sedih. Cucu sang nenek masih bingung mengapa ayahnya harus bersedih, padahal sang nenek sudah membuat ayahnya sakit hati dengan segala macam keluhan dan ketidakbetahan sang nenek di rumah mereka.

      Kemudian, alur cerita pun mundur ke masa kecil anak laki-laki nenek tadi (saya menduga si ayah sedang menceritakan kepada anaknya tentang masa kecilnya bersama sang nenek, meski tidak secara tersurat terlihat dalam subtitle video). Di masa itu, sang nenek bersusah payah mencari angkutan umum dalam naungan hujan deras. Ia mencari angkutan umum untuk membawa anaknya yang sakit ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, sang nenek tidak bisa serta merta langsung menghadap dokter. Dia harus antri dulu menunggu gilirannya dipanggil. Anak laki-lakinya pun akhirnya dinyanyikan semacam lagu (saya sendiri tak tahu itu lagu apa, karena dinyanyikan dalam bahasa Tionghoa dan tidak ada subtitle-nya) untuk menguatkan sang anak menghadapi sakitnya dan akhirnya anak laki-laki itu pun membuka matanya (awalnya si anak laki-laki tadi mashi pingsan/tidur karena lemas).

      Kemudian, alur cerita berpindah lagi ke kondisi dimana sang nenek di rumah sakit (seperti di awal cerita). Sang anak laki-laki pun mengusap-usap ibunya (nenek tadi) sambil bernyanyi dengan penuh kesabaran untuk menguatkan sang nenek menghadapi sakitnya. Si nenek pun lantas mengeluarkan air mata dan hal itu mengingatkan akan masa-masa dimana sang nenek dengan sabar mengusap anaknya di rumah sakit dahulu sembari menunggu antrian untuk konsultasi ke dokter.

      Terakhir, video ini ditutup dengan suatu pesan moral “How One Generation Loves, The Next Generation Learns“. Arti pesan tersebut kurang lebih “Bagaimana suatu generasi mengasihi/mencintai, maka generasi yang selanjutnya pun akan belajar dari hal tersebut”.

     “Cinta kasih dalam keluarga menembus batas generasi”. Hal inilah yang saya dapat dari video tersebut. Jujur, saya ingin menangis ketika menonton video tersebut. Mengapa? Karena cerita itu mengingatkan saya akan kelakukan saya pada masa kecil, yang mirip sekali dengan kelakuan cucu sang nenek. Sejak kecil, opung (bahasa batak : nenek) saya tinggal bersama saya, mama saya dan adik-adik saya. Opung saya agak mirip kelakuannya dengan sang nenek di video tadi (maklum, sudah lanjut usia. Hehehe). Waktu masih kecil, saya terkadang suka kesal dengan tingkah opung saya itu, namun mama tetap saja sabar dan memaklumi. Saya pun pada akhirnya seiring bertambahnya usia makin mengerti mengapa mama bisa begitu sabar dengan opung. Hehehe :’)

       Semoga video ini dapat membangkitkan semangat cinta kasih dalam keluarga kita masing-masing sampai generasi-generasi selanjutnya dan membuat kita juga berpikir dua kali sebelum kesal atas segala keluhan-keluhan nenek/kakek kita. God bless us !

Salam.

1 Comment »

FORUM STATISTIKA

Speaks With Data

Scholarship and Career Tips

About scholarship, career and work life..

Merajut Kata

Untuk-MU, ALLAH-ku.. Untuk Mereka, Orangtuaku.. Untukmu, Saudaraku..

anesanurul.wordpress.com/

Free like a sea, High like a Sky

minyak ikan kod

hanya tuang pikiran daripada bengong

The Wina

Because of all stories, nothing lasts forever

Immigration Reheated.

Politics & policy of immigration reform. Hoping third time's the charm.

Patrick Tucker

Writer. Editor. Futurist

divorcescience

the scientific study of divorce & support for families

cobodoe

a dreamer

Indahnya Ilmu

Biarkan jari-jarimu menari~

Pray Nadeak's Blog

(Indahnya Berbagi)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.