Pray Nadeak's Blog

(Indahnya Berbagi)

Principle of Parsimony : Kesederhaan Tetap yang Terbaik

Ada yang pernah mendengar istilah Principle of Parsimony? Principle of Parsimony itu merupakan salah satu prinsip yang dipegang dalam membuat model-model statistik. Model statistik adalah persamaan yang dibentuk dari sejumlah data sampel untuk menggambarkan hubungan antara variabel-variabel yang dipengaruhi dengan variabel-variabel-variabel yang mempengaruhinya. Principle of Parsimony sendiri merupakan suatu prinsip yang menyatakan bahwa semakin sederhana sebuah model statistik dengan jumlah variabel dependen (yang dipengaruhi) cukup informatif untuk menjelaskan model, semakin baik pula model statistik tersebut.

Istilah Principle of Parsimony ini pertama kali diperkenalkan oleh dosen Analisis Ketahanan Hidup (Survival Analysis) saya, Pak Mohammad Dokhi. Bapak ini berulang kali menyebut istilah itu di kelas. Itulah yang membuat istilah tersebut saya masih ingat sampai sekarang.

Selain Pak Dokhi, ada pula dosen yang menyinggung-nyinggung Principle of Parsimony ini di kelas. Dosen tersebut adalah Pak MA. Yulianto, dosen Riset Operasi (Operation Research). Beliau dalam kuliah pernah menyebutkan bahwa BPS (Badan Pusat Statistik) seringkali merilis hasil-hasil peramalan statistik berdasarkan model-model statistik yang sederhana. Contohnya saja peramalan produksi padi yang selalu menggunakan regresi linier sederhana dengan variabel dependen hasil produksi dan variabel independen luas tanam. Peramalan tersebut lebih efektif karena selain mudah dalam interpretasi hasil, sehingga mudah pula melihat hubungan yang logis antara luas tanam dan hasil produksi.

Namun, pada tanggal 15 Februari 2013, saya diingatkan kembali oleh partner lomba DAC (Data Analysis Competition) saya, Listra Tandi Roma, akan Principle of Parsimony ini. Ketika saya dan Listra mencoba menganalisis data dari soal babak penyisihan online yang diberikan, ternyata dari output SPSS terindikasi bahwa terjadi multikolinearitas dalam model. Saya pun mencoba memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasi multikolinearitas ini. Ketika itu saya menjadi teringat akan Confirmatory Factor Analysis –salah saatu teknik analisis multivariat yang kami pelajari di kampus- yang dapat meringkas variabel-variabel yang berkorelasi tinggi (multikolinearitas) menjadi satu faktor sehingga dapat mengatasi masalah multikolinearitas tersebut. Namun demikian, partner saya kurang setuju dengan usulan tersebut karena model yang terbentuk tadi akann menjadi lebih ribet, muter-muter dan susah diinterpretasikan. Dia lebih setuju kalau saya menggunakan Stepwise Regresion untuk menghilangkan variabel-variabel bebas yang menyebabkan multikolinearitas sehingga model jadi lebih baik dan lebih sederhana.

Saya pun tetap keukeuh dengan pendirian saya. Namun ketika membaca soal-soal nomor akhir, pendirian saya pun langsung berubah. Saya pun langsung setuju dengan pendapat partner saya, karena lebih cocok dengan permintaan soalnya. Soalnya meminta agar para peserta dapat menunjukkan model terbaik dengan variabel-variabel independen mana yang berpengaruh kuat serta memberi kesimpulan umum dan saran dari sluruh hasil analisis. Saya baru sadar kalo Stepwise Regression lebih cocok karena lebih mudah dalam interpretasinya lebih mudah -jumlah variabelnya sedikit dan hubungannya linier- sehingga lesimpulan umum dan saran pun lebih mudah didapat.

Tak disangka ternyata Principle pf Parsimony kembali hadir menyapaku di masa-masa penulisan skripsiku. Dalam  metoologi skripsiku, aku menggunakan prinsip Principle of Parsimony untuk menentukan model terbaik untuk menjelaskan ketahanan sekolah siswa usia 7-15 tahun di Jawa Barat tahun 2011. Principle of Parsimony ini tertuang dalam suatu kriteria yang dinamakan AIC (Akaike Information Criterion) yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

AIC = -2 Loglikelihood + 2p

dimana -2 Loglikelihood merupakan representasi kecocokan model (goodness of fit) dan 2p merupakan representasi kerumitan model. Makin kecil nilai -2 Loglikelihood makin besar peluang model untuk cocok (fit) dan makin kecil nilai 2p makin sederhana pula model tersebut. Jika dikaitkan dengan principle of parsimony, maka model dengan AIC terkecil merupakan model yang terbaik untuk menjelaskan peristiwa tersebut.

Jadi, Principle of Parsimony mengajarkan “simplicity is always be the best helper to help you solving your problems

Advertisements
Leave a comment »

woooowww

Leave a comment »

Cinta Kasih dalam Keluarga Menembus Batas Generasi

       Pembaca sekalian, kali ini saya ingin berbagi tentang sebuah video nan penuh makna. Video ini merupakan iklan layanan masyarakat Singapura. Saya sendiri tahu video ini ketika ibadah Minggu di GKI Cawang, dimana ketika sang pendeta menutup khotbahnya beliau memberikan ilustrasi singkat dengan dengan memutar video ini di akhir khotbahnya.

       Video ini ber-subtitle bahasa Inggris. Akan tetapi, saya akan tetap menjelaskan isi cerita dari video ini agar pembaca semua dapat mengerti maksud dari video ini dan mempraktikkan nasihat yang ada di dalamnya dalam kehidupan berkeluarga.

       Awal cerita video ini dimulai dari ketika sang nenek berada di rumah sakit. Di rumah sakit itu dia dijaga oleh anak laki-lakinya, istri anak laki-lakinya, dan cucunya. Dengan sabar si anak laki-laki ini merawat ibunya (nenek tadi) dan ini membuat anaknya sendiri (cucu nenek tadi) merasa heran dengan kesabaran ayahnya dalam menjaga neneknya.

       Kemudian, alur cerita pun mundur ke kondisi satu tahun yang lalu (flashback). Saat itu, sang nenek baru pindah ke rumah anaknya setelah suaminya lebih dahulu pergi meninggalkan dunia. Dalam keseharian, sang nenek terlihat tak betah tinggal di rumah anaknya. Ketika sang nenek makan di rumah itu, dia mengeluhkan daging yang dimasak terlalu alot (keras) sehingga dia mengira bahwa dengan memberi daging itu kepadanya berarti mereka ingin membuatnya tersedak, lalu mati. Sang anak laki-laki pun tetap sabar dengan tingkah ibunya (sang nenek). Dia menyuapi ibunya sayur -yang lebih lembut teksturnya daripada daging- namun ibunya tetap menolaknya. Istri si anak laki-laki ini dan anak mereka meninggalkan ruang makan itu meninggalkan ruang makan itu dengan hati yang cukup kesal melihat tingkah sang nenek.

       Berikutnya, dalam puncak ketidakbetahannya sang nenek di rumah itu, dia ngambek dan ingin pindah ke rumah saudara perempuannya di Red Hills. Tentu saja keputusan ini membuat anak laki-lakinya sedih. Cucu sang nenek masih bingung mengapa ayahnya harus bersedih, padahal sang nenek sudah membuat ayahnya sakit hati dengan segala macam keluhan dan ketidakbetahan sang nenek di rumah mereka.

      Kemudian, alur cerita pun mundur ke masa kecil anak laki-laki nenek tadi (saya menduga si ayah sedang menceritakan kepada anaknya tentang masa kecilnya bersama sang nenek, meski tidak secara tersurat terlihat dalam subtitle video). Di masa itu, sang nenek bersusah payah mencari angkutan umum dalam naungan hujan deras. Ia mencari angkutan umum untuk membawa anaknya yang sakit ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, sang nenek tidak bisa serta merta langsung menghadap dokter. Dia harus antri dulu menunggu gilirannya dipanggil. Anak laki-lakinya pun akhirnya dinyanyikan semacam lagu (saya sendiri tak tahu itu lagu apa, karena dinyanyikan dalam bahasa Tionghoa dan tidak ada subtitle-nya) untuk menguatkan sang anak menghadapi sakitnya dan akhirnya anak laki-laki itu pun membuka matanya (awalnya si anak laki-laki tadi mashi pingsan/tidur karena lemas).

      Kemudian, alur cerita berpindah lagi ke kondisi dimana sang nenek di rumah sakit (seperti di awal cerita). Sang anak laki-laki pun mengusap-usap ibunya (nenek tadi) sambil bernyanyi dengan penuh kesabaran untuk menguatkan sang nenek menghadapi sakitnya. Si nenek pun lantas mengeluarkan air mata dan hal itu mengingatkan akan masa-masa dimana sang nenek dengan sabar mengusap anaknya di rumah sakit dahulu sembari menunggu antrian untuk konsultasi ke dokter.

      Terakhir, video ini ditutup dengan suatu pesan moral “How One Generation Loves, The Next Generation Learns“. Arti pesan tersebut kurang lebih “Bagaimana suatu generasi mengasihi/mencintai, maka generasi yang selanjutnya pun akan belajar dari hal tersebut”.

     “Cinta kasih dalam keluarga menembus batas generasi”. Hal inilah yang saya dapat dari video tersebut. Jujur, saya ingin menangis ketika menonton video tersebut. Mengapa? Karena cerita itu mengingatkan saya akan kelakukan saya pada masa kecil, yang mirip sekali dengan kelakuan cucu sang nenek. Sejak kecil, opung (bahasa batak : nenek) saya tinggal bersama saya, mama saya dan adik-adik saya. Opung saya agak mirip kelakuannya dengan sang nenek di video tadi (maklum, sudah lanjut usia. Hehehe). Waktu masih kecil, saya terkadang suka kesal dengan tingkah opung saya itu, namun mama tetap saja sabar dan memaklumi. Saya pun pada akhirnya seiring bertambahnya usia makin mengerti mengapa mama bisa begitu sabar dengan opung. Hehehe :’)

       Semoga video ini dapat membangkitkan semangat cinta kasih dalam keluarga kita masing-masing sampai generasi-generasi selanjutnya dan membuat kita juga berpikir dua kali sebelum kesal atas segala keluhan-keluhan nenek/kakek kita. God bless us !

Salam.

1 Comment »

Pengertian, Konsep-konsep, dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya

Pengantar

Dalam tulisan yang lalu (Pengertian, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaat Demografi),  saya telah sedikit berdongeng tentang dua pangeran kembar, yaitu Fertilitas dan Natalitas serta ibu mereka, yaitu Ratu Fekunditas. Mau kenal lebih jauh dengan mereka bertiga? Letz Cekidot ! 😀

Pengertian Fertilitas

Fertilitas (Inggris: Fertility) sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain, fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fekunditas, sebaliknya, merupakan potensi fisik untuk melahirkan anak. Kedua hal ini berkaitan erat, dimana fekunditas merupakan modal awal dari seorang perempuan untuk mengalami fertilitas dalam hidupnya dan seorang yang telah mengalami fertilitas pasti fekunditasnya baik.

Ada satu kata yang memiliki makna yang menyerupai fertilitas, yaitu natalitas. Perbedaan keduanya hanya pada ruang lingkupnya. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk, sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia.

Konsep-konsep Fertilitas

Dalam buku Dasar-dasar Demografi terbitan FE UI, dijelaskan konsep-konsep penting yang harus dipegang dalam mengkaji fenomena fertilitas, diantaranya:

  1. Lahir hidup (Life Birth), menurut WHO, adalah suatu kelahiran seorang bayi tanpa memperhitungkan lamanya di dalam kandungan, dimana si bayi menunjukkan tanda-tanda kehidupan, misal : bernafas, ada denyut jantungnya atau tali pusat atau gerakan-gerakan otot.
  2. Lahir mati (Still Birth) adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
  3. Abortus adalah kematian bayi dalam kandungan dengan umur kurang dari 28 minggu. Ada dua macam abortus : disengaja (induced) dan tidak disengaja (spontaneus). Abortus yang disengaja mungkin lebih sering kita kenal dengan istilah aborsi dan yang tidak disengaja lebih sering kita kenal dengan istilah keguguran.
  4. Masa reproduksi (Childbearing age) adalah masa dimana perempuan melahirkan, yang disebut juga usia subur (15-49 tahun).

Namun, Tim Kompre Angkatan 51 memiliki konsep yang agak berbeda terkait kematian bayi, yakni :

  • Kematian bayi intra uterin (di dalam kandungan ibu), terdiri dari:
    1. Abortus   : kematian janin  menjelang dan sampai pada kandungan berumur 16 minggu.
    2. Immatur  : kematian janin antara umur kandungan di atas 16 minggu sampai 28 minggu.
    3. Prematur : kematian janin di dalam kandungan pada umur kandungan di atas 28 minggu sampai waktu lahir
  • Kematian bayi extra uterin (di luar kandungan ibu), terdiri dari:
    1. Lahir mati (still birth) : jika bayi yang lahir setelah cukup masanya, tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan
    2. Kematian baru lahir (neonatal death) atau kematian endogen : kematian sebelum bayi berumur 1 bulan yang biasanya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa bayi sejak lahir.
    3. Kematian lepas baru lahir (post neonatal death) : kematian bayi setelah berumur 1 bulan tetapi kurang dari 1 tahun yang biasanya disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan lingkungan luar.

    Capture2

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fertilitas

Menurut Kingsley Davis & Judith Blake

Faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya yang memengaruhi fertilitas akan melalui faktor-faktor yang langsung ada kaitannya dengan ketiga tahap reproduksi, yaitu tahap intercourse (hubungan seksual), conseption (pembuahan sel telur oleh sel sperma) dan gestation (kehamilan). Faktor-faktor yang mempunyai kaitan antara ketiga variabel tersebut disebut VARIABEL ANTARA, yang terdiri dari:

  • 6 variabel yang memengaruhi intercouse, yaitu:
    1. Umur mulai berhubungan kelamin/kawin pertama.
    2. Selibat permanen : proporsi wanita yang tak pernah melakukan hubungan kelamin.
    3. Lamanya berstatus kawin/lamanya masa melajang.
    4. Abstinensi (absen dalam melakukan hubungan seksual) secara sukarela.
    5. Abstinensi terpaksa (misal: sakit, berpisah ranjang sementara).
    6. Frekuensi senggama.
  • 3 variabel yang memengaruhi conception, yaitu:
    1. Fekunditas atau infekunditas yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak disengaja.
    2. Pemakaian kontrasepsi.
    3. Fekunditas atau infekunditas yang disebabkan oleh hal-hal yang disengaja.
  • 2 variabel yang memengaruhi gestation, yaitu:
    1. Mortalitas janin karena hal-hal yang tidak disengaja
    2. Mortalitas janin karena hal-hal yang disengaja
3 Comments »

so sad

Leave a comment »

wow

Immigration Reheated.

Slate points out that immigrants were a larger portion of the U.S. population 100 years ago. This is pretty intuitive, considering how the late-19th and early-20th century waves of immigration are widely taught. However, we are relatively close to that historical high today (13 percent as opposed to 15 percent).

An interesting factoid in the immigration debate is that Americans hugely overestimate how much of the U.S. population is made of immigrants. I’ve only ever seen this question asked by one survey, the Transatlantic Trends Immigration survey (the latest results for which are 2011– they didn’t seem to release one in 2012).

To go over the facts again: The foreign-born population of the U.S. in recent years has been around 13 percent.

But:

foreign born pop smaller

People think that somewhere between 35 and 40 percent of the people living in the United States are foreign born — about three times what the number…

View original post 148 more words

Leave a comment »

empowerment, of course

Learn and Teach Statistics and Operations Research

Where are you on the Fastidiousness Scale?

Sometimes statisticians just have to let go, and accept that some statistical analysis will be done in less than ideal conditions, with fairly dodgy data and more than a few violated assumptions.  Sometimes the wrong graph will be used. Sometimes people will claim causation from association. Just as sometimes people put apostrophes where they should not and misuse the word “comprise”.

When we are teaching, particularly non-majors, we need to think hard about where we sit on the fastidiousness scale. (In my experience just about all statistics teaching is to non-majors, which may say something about the attitudes of people to statistics.)

The fastidiousness scale is best described by its two extremes. At one extreme statistical analysis is performed only by mathematical statisticians, using tools like SAS and R, but only if they know exactly how each formula works (and have preferably proved…

View original post 868 more words

Leave a comment »

LAN? I just known that LAN is not only Local Area Network, but also Local Asymptotic Normality. Hahaha

Leave a comment »

Ukuran Dalam Demografi

Pengantar

Di artikel yang lalu, teman-teman pembaca udah baca tentang kan Pengertian, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaat Demografi ? Hehehe. Dari pembahasan sebelumnya kita udah tau kalo yang namanya ilmu demografi itu bersifat kuantitatif dan kualitatif. Nah, sebagai ilmu yang bersifat kuantitatif, maka ilmu demografi pun mempunyai ukuran-ukuran yang dilandaskan pada prinsip statistika dan matematika untuk mengukur fernomena fertilitas, mortalitas dan migrasi. Mau tau apa aja jenis-jenis ukuran dalam ilmu demografi? Yuk, Check this one out !  🙂

Pengertian Ukuran Demografi

“ukur·an n 1 hasil mengukur; 2 panjang, lebar, luas, besar sesuatu; format: kertas dng ~ 34 x 22 cm; 3 bilangan yg menunjukkan besar satuan ukuran suatu benda; 4 cak alat untuk mengukur, msl penggaris, meteran, jengkal: ~ nya hanya menggunakan jengkal; 5 ki norma: bertindak tanpa ~”
(Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Jadi, definisi ukuran yang tepat dalam sudut pandang ilmu demografi adalah bilangan yg menunjukkan besar satuan ukuran suatu fenomena demografi. Fenomena demografi tersebut yakni fertilitas (kelahiran), mortalitas (kematian), perkawinan, dan migrasi (perpindahan). Tujuan dari pengukuran fenomena tersebut adalah dinamika yang terjadi dalam penduduk dapat diketahui, dipelajari secara sistematis, dianalisis dan dibandingkan.

Jenis-jenis Ukuran Demografi

Jenis-jenis ukuran dalam ilmu demografi dibedakan menjadi 6 jenis, yaitu:

  1. Bilangan
    Ukuran yang digunakan untuk menunjukkan jumlah absolut/mutak suatu penduduk atau suatu kejadian/peristiwa demografi yang terjadi di daerah tertentu dalam suatu periode tertentu. Contohnya, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah  237.641.326 orang.
  2. Rate/Angka
    • Rate/ angka adalah jumlah kejadian/peristiwa demografi dalam suatu penduduk dalam periode tertentu (biasanya 1 tahun) dibagi penduduk at risk selama periode tersebut.
    • Penduduk at risk adalah jumlah penduduk yang menanggung resiko (yang mengalami akibat langsung) peristiwa demografi tersebut.
    • Rate sering diekspresikan per 100 atau per 1000 penduduk, agar lebih muda dimengerti artinya.
    • Rate  ada 2 macam, yaitu angka kasar dan angka spesifik.
      • Angka kasar (Crude Rate) adalah angka yang dipakai untuk menghitung peristiwa demografi penduduk total, termasuk yang tidak menanggung resiko dari peristiwa demografi tersebut. Contohnya: CBR (Crude Birth Rate) pada tahun 2013 di Provinsi XYZ adalah 25, artinya pada tahun 2013 ada 25 kelahiran di Provinsi XYZ tiap 1000 penduduk.
      • Angka Spesifik (Specified Rate) adalah angka yang dipakai hanya untuk menghitung peristiwa demografi penduduk yang menanggung resiko dari peristiwa demografi tersebut. Contohnya: ASFR 20-24 (Age Specified Fertility Rate usia 20-24 tahun) pada tahun 2013 di Provinsi XYZ adalah 0,015, artinya pada tahun 2013 ada 15 kelahiran di provinsi XYZ tiap 1000 wanita subur usia 20-24 tahun.
  3. Ratio/ Rasio
    Ukuran perbandingan satu jumlah dengan jumlah yang lainnya atau perbandingan antara dua bilangan, misalnya satu subgrup penduduk dengan subgrup penduduk lainnya. Contoh: Sex Ratio adalah jumlah laki-laki per 100 perempuan. Sex Ratio di provinsi XYZ pada tahun 2013 adalah 105, artinya pada tahun 2o13 ada 100 orang perempuan, ada 105 orang laki-laki.
  4. Proporsi/Persentase
    Ukuran perbandingan  antara dua bilangan, dimana pembilangnya merupakan bagian dari penyebut atau jumlah satu subgrup penduduk dibagi dengan jumlah seluruh penduduk. Bila proporsi ini dinyatakan dalam per 100 (persen), maka proporsi pun berganti nama menjadi persentase. Oleh karena itu, proporsi/persentase penduduk analoginya mirip dengan Crude Rate yang telah dibahas sebelumnya.
  5. Konstanta/Bilangan Konstan
    Bilangan tetap -biasanya 100, 1000 atau 100.000- dimana rate , ratio, atau proporsi dapat dikalikan untuk menggambarkan ukuran-ukuran dalam suatu bentuk yang mudah dimengerti. Dalam rumus, bilangan konstan biasanya ditulis sebagai “k“.
  6. Kohor, Prevalensi, dan Insidence

    • Kohor adalah sekelompok penduduk yang mempunyai pengalaman waktu yang sama dari suatu peristiwa demografi tertentu. Yang paling sering digunakan adalah kohor kelahiran. Contoh: Kohor kelahiran menggambarkan penduduk di suatu daerah yang lahir pada tahun yang sama.
    • Tingkat Prevalensi Kontrasepsi adalah jumlah perempuan usia reproduksi yang menggunakan kontrasepsi per 100 perempuan usia reproduksi.
    • Insidence Rate biasanya ukuran rate yang digunakan untuk analisis morbiditas (kesakitan/penyakit). Contoh: Insidence Rate penyakit TBC di Kenya pada tahun 1996 adalah 97 per 100.000 penduduk, artinya pada tahun 1996 ada 97 orang menderita TBC tiap 100.000 penduduk Kenya.

     

Penutup

Sekian pembahasan kita kali ini, teman-teman pembaca. Semoga bermanfaat untuk kita semua, terutama bagi yang ingin mengetahui dan mengerti makna dari setiap ukuran demografi. Mauliate Godang ! 😀

Referensi :

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia
  2. Tim Kompre Angkatan 51 Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. 2012. Modul Kompre Statistik Kependudukan. Jakarta.

 

Leave a comment »

Pengertian, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaat Demografi

Pengantar
Alkisah di Kerajaan Demografi hiduplah dua pangeran kembar, Fertilitas dan Natalitas, anak dari Ratu Fekunditas. Musuh bebuyutan mereka adalah Mortalitas dan Morbiditas, yang juga masih rakyat di kerajaan tersebut. Mortalitas dan Morbiditas selalu saja ingin membunuh dua pangeran itu dengan berbagai rencana licik mereka,  namun segala usaha yang dilakukan oleh mortalitas dan morbiditas selalu gagal karena fertilitas dan natalitas selalu ditolong oleh Dewa Angka Harapan Hidup.”

Kerajaan Demografi? Apa itu?

Penasaran dengan apa itu demografi? Baiklah, kita bahas sekarang apa itu demografi. Let’s Check This One Out ! 😀



Pengertian Demografi

Demografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos yang berarti rakyat atau penduduk dan grafein yang berarti menulis. Jadi, demografi adalah tulisan-tulisan atau karangan-karangan mengenai rakyat atau penduduk. Istilah ini dipakai untuk pertama kalinya oleh Achille Guillard dalam tulisannya yang berjudul Elements de Statisque Humaine on Demographic Compares pada tahun 1885.

Beberapa ahli pun punya pendapat masing-masing tentang pengertian dari demografi itu sendiri. Berikut ini pendapat para ahli tersebut.

  1. Menurut Johan Susczmilch (1762), demografi adalah ilmu yang mempelajari hukum Ilahi dalam perubahan-perubahan pada umat manusia yang tampak dari kelahiran, kematian dan pertumbuhannya.
  2. Menurut Achille Guillard, demografi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu dari keadaan dan sikap manusia yang dapat diukur.
  3. Menurut George W. Barclay, demografi adalah ilmu yang memberikan gambaran menarik dari penduduk yang digambarkan secara statistika. Demografi mempelajarai tingkah laku keseluruhan dan bukan tingkah laku perorangan.
  4. Menurut Phillip M. Hauser dan Dudley Duncan, demografi adalah ilmu yang mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahan dan sebab-sebab perubahan tersebut.
  5. Menurut D.V. Glass, demografi adalah ilmu yang secara umum terbatas untuk mempelajari penduduk yang dipengaruhi oleh proses demografis, yaitu : fertilitas, mortalitas dan migrasi.
  6. Menurut Donald J. Boague (1973), demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistika dan matematika tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk serta perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya 5 komponen demografi, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.

Nah, sekarang dapat disimpulkan bahwa demografi adalah ilmu yang mempelajari persoalan dan keadaaan perubahan-perubahan penduduk atau dengan kata lain segala hal ihwal yang berhubungan dengan komponen-komponen perubahan tersebut seperti : kelahiran, kematian, migrasi, sehingga menghasilkan suatu keadaan dan komposisi penduduk menurut jenis kelamin tertentu.

Ruang Lingkup Demografi

Dalam sejarah perkembangan demografi timbul masalah mengenai pembagian cabang ilmu ini. Menurut Methorst dan Skirk, masalah penduduk dapat dibedakan menjadi masalah kuantitatif (demografi) dan masalah kualitatif yang membahas penduduk dari segi genetis dan biologis. Gagasan ini tidak mendapat dukungan. Jadi, walaupun demografi menggunakan banyak hitungan (kuantitatif), tapi juga dapat bersifat kualitatif. Sedangkan, ilmu hayat (biologi) itu sendiri pun tidak lepas dari usaha-usaha kuantitatif. Hal demikian memberikan kesan kepada orang awam bahwa demografi hanyalah penyusunan statistik penduduk, padahal tidak sepenuhnya demikian. Ini memang bisa dimengerti oleh karena pelopor-pelopor ilmu demografi, seperti Suszmilch, Guillard dan Wolfe, menganggap demografi sebagai semacam “Tata buku. Bio-sosial” atau “Bio-social bookkeeping”. Jadi memang angka-angka itu penting, tetapi angka-angka tersebut harus dinyatakan hubungan-hubungannya, setelah itu baru bisa dinamakan ilmu demografi.

Pada tahun 1937 di Paris selama kongres kependudukan berlangsung, Adolphe Laundry telah membuktikan secara matematika adanya hubungan antara unsur-unsur demografi, seperti kelahiran, kematian, jenis kelamin, umur, dan sebagainya. Ia menyarankan penggunaan istilah Pure Demography untuk cabang ilmu demografi yang bersifat analitik-matematika dan berbeda dari ilmu demografi yang bersifat deskriptif. Karya ini lantas mendapat sambutan positif dari berbagai pihak.

Pure Demography (Demografi murni) atau juga disebut demografi formal menghasilkan teknik-teknik untuk menghitung data kependudukan. Dengan teknik-teknik tersebut, kita dapat memperoleh perkiraan penduduk di masa yang akan datang maupun masa lampau. Teknik-teknik ini sering kelihatan menakjubkan dan mempunyai kegunaan besar, tetapi teknik-teknik tersebut jarang menyajikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sosial tentang “mengapa” bentuk atau proses peristiwa kependudukan terjadi.

demo

Untuk menjawab pertanyaan “mengapa” tersebut, kita memerlukan ilmu lain yang biasa disebut dengan Sociological Demography, Population Studies, Demographic Sociology atau Studi Kependudukan. Ilmu ini merupakan penghubung antara penduduk dan sistem sosial, dengan harapan dapat memecahkan pertanyaan dasar bagaimana kita memberi pengertian kepada orang awam melalui proses analisis kependudukan. Jadi, dapat dikatakan pula bahwa Demografi murni dan Studi Kependudukan saling melengkapi dimana Studi Kependudukan menjadi dasar teori dari analisis yang dilakukan dengan menggunakan Demografi Murni dan Demografi Murni memperkuat teori yang ada dalam Studi Kependudukan secara ilmiah melalui proses kuantitatif (statistik & matematik).

Sekarang lebih disadari bahwa demografi tidak dipelajari secara murni terlepas dari variabel-variabel nondemografis, seperti ekonomi, sosiologi, geografi, politik, dan sebagainya. Juga demografi bukan lagi merupakan ilmu yan berdiri sendiri secara teoritis, tetapi lebih menyerupai ilmu pengetahuan interdisipliner (ilmu yang melibatkan disiplin ilmu lain dalam perkembangannya).

Tujuan dan Manfaat Demografi

Ilmu demografi digunakan oleh para ahli umumnya terdiri dari empat tujuan pokok, yaitu:

  1. Mempelajari kuantitas dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu.
  2. Menjelaskan pertumbuhan penduduk masa lampau, penurunannya dan persebarannya dengan sebaik-baiknya dan dengan data yang tersedia.
  3. Mengembangkan hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk dengan bermacam-macam aspek organisasi sosial.
  4. Mencoba meramalkan pertumbuhan pendukuduk di masa yang akan datang dan kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya.

Pada akhirnya, keempat tujuan pokok tersebut akan bermanfaat untuk:

  1. Perencanaan pembangunan yang berhubungan dengan pendidikan, perpajakan, kemiliteran, kesejahteraan sosial, perumahan, pertanian dan lain-lain yang dilakukan pemerintah menjadi lebih tepat sasaran jika  mempertimbangkan komposisi penduduk yang ada sekarang dan yang akan datang.
  2. Evaluasi kinerja pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dengan melihat perubahan komposisi penduduk yang ada sekarang dan yang lalu beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
  3. Melihat peningkatan standar kehidupan melalui tingkat harapan hidup rata-rata penduduk, sebab tidak ada ukuran yang lebih baik kecuali lamanya hidup sesorang di negara yang bersangkutan
  4. Melihat seberapa cepat perkembangan perekonomian yang dilihat dari ketersediaan lapangan pekerjaan, persentase penduduk yang ada di sektor pertanian, industri dan jasa.

Penutup
Sekian penjelasan dari saya. Semoga para pembaca semaki mengerti apa itu demografi dan makin menyadari betapa pentingnya ilmu demogafi dalam perencanaan pembangunan. Thanks for your attention, fellas ! 🙂

Referensi:

  1. Lembaga Demografi FE UI. 2007. Dasar-dasar Demografi. Jakarta : Lembaga Penerbit FE UI.
  2. Tim Kompre Angkatan 51 Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. 2012. Modul Kompre Statistik Kependudukan. Jakarta.
3 Comments »

FORUM STATISTIKA

Speaks With Data

Scholarship and Career Tips

About scholarship, career and work life..

Merajut Kata

Untuk-MU, ALLAH-ku.. Untuk Mereka, Orangtuaku.. Untukmu, Saudaraku..

anesanurul.wordpress.com/

Free like a sea, High like a Sky

minyak ikan kod

hanya tuang pikiran daripada bengong

The Wina

Because of all stories, nothing lasts forever

Immigration Reheated.

Politics & policy of immigration reform. Hoping third time's the charm.

Patrick Tucker

Writer. Editor. Futurist

divorcescience

the scientific study of divorce & support for families

cobodoe

a dreamer

Indahnya Ilmu

Biarkan jari-jarimu menari~

Pray Nadeak's Blog

(Indahnya Berbagi)

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.